Sabtu, 11 April 2009

പെണ്ടിടികാന്‍ അടല് investasi

INVESTASI PENDIDIKAN-INVESTASI MASA DEPAN

Eksekutif salah satu perusahaan milik konglomerat di Indonesia suatu hari mengungkapkan kegundahan hatinya, karena terancam bakal kehilangan pekerjaan dalam waktu dekat. Pemilik perusahaan telah mengancam bakal mendatangkan ekspatriat dari India atau Singapura untuk menduduki posisinya, jika dia tidak berhasil mencapai target perusahaan. “Lebih gila lagi, orang India atau Singapura itu mau digaji hanya lebih tinggi 20% dari orang lokal,” tuturnya dengan wajah muram. Penuturan eksekutif itu telah membuat saya mengelus dada. Tanpa adanya serbuan tenaga kerja asing saja, angka pengangguran di Indonesia secara akumulatif diperkirakan para ekonom telah mencapai lebih dari 40 juta orang.

Angka kemiskinan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2006 telah mencapai 39,05 juta juta jiwa atau hampir 20% dari jumlah penduduk Indonesia.
Bagaimana nasib bangsa ini kalau India dan Singapura sampai menyerbu pasar tenaga kerja di Indonesia. Yang lebih parah, mereka tak terlalu mempermasalahkan gaji yang relatif kecil untuk ukuran orang asing, karena biaya hidup di sini juga cukup murah.
Fenomena ini menunjukkan kalau era globalisasi tak terbendung lagi. Thomas L. Friedman dalam bukunya The World Is Flat telah membuktikan kalau dunia ini datar. Dunia ini makin tak berjarak, karena kemajuan teknologi telah membuat batas antarnegara menjadi pendek.
Makin pendeknya jarak antarnegara ini berdampak makin ketatnya persaingan, termasuk kompetisi di bidang sumber daya manusia (SDM). Tapi India, salah satu contoh negara yang telah memetik hasil dari keberhasilannya melakukan investasi manusia (human investment).
Meskipun miskin, Pemerintah India punya komitmen tinggi di bidang pendidikan dengan cara membuat sekolah-sekolah berbiaya murah. Hasilnya kini terasa. Di berbagai negara saat ini telah bertebaran orang-orang pintar dari India yang menduduki posisi penting di perusahaan.
Dampak dari pendidikan telah membuat India mampu mengekspor tenaga kerja terdidik. India kini juga mulai dilihat sebagai negara yang berpotensi menjadi macan ekonomi baru di dunia. Negara yang lima tahun silam masih dilihat sebelah mata oleh dunia karena kemiskinannya, kini telah mampu berinvestasi di negara lain.
Tips menyiapkan biaya pendidikan
Biasakan menyisihkan sebagian penghasilan untuk biaya pendidikan Kalau khawatir tidak bisa berdisiplin dalam uang, sebaiknya mengikuti program investasi pendidikan melalui tabungan atau asuransi. Investasi di asuransi atau tabungan pendidikan ini sebaiknya dilakukan semenjak dini atau sebelum anak duduk di bangku sekolah. Pilihan sekolah disesuaikan dengan kemampuan pendanaan.
Salah satu perusahaan otomotif PT Bajaj milik India, misalnya, telah investasi ke beberapa negara, termasuk ke Indonesia. Langkah kesadaran pendidikan di India ini juga diikuti oleh China.
Setelah Negeri Tirai Bambu mengubah politik komunisnya menjadi politik terbuka, banyak warganya yang dikirim untuk bersekolah di luar negeri. Hasilnya, negeri ini pun mulai menyaingi Jepang dan Korea Selatan dalam bidang produk industri.
Bagaimana dengan Indonesia? Ketika bangsa ini telah merdeka dari penjajahan Belanda dan Jepang, pemberantasan buta huruf menjadi prioritas dalam meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
Bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka, Dokter Wahidin, penggagas perkumpulan Budi Utomo, telah bercita-cita untuk mengentaskan bangsa ini dari keterbelakangan dan kemelaratan melalui pendidikan.
Pendidikan tak dimungkiri merupakan bentuk investasi SDM. Investasi di pendidikan memang baru akan terasa hasilnya dalam jangka panjang. Tapi hanya dengan pendidikan, harkat dan martabat bangsa ini diyakini bakal membaik.
Sayangnya, biaya pendidikan sekolah di Indonesia dalam kurun lima tahun terakhir dirasakan sangat mahal oleh sebagian besar rakyat yang daya belinya melemah, akibat memburuknya perekonomian.
Besarnya rupiah yang harus dibayar oleh setiap orangtua yang ingin menyekolahkan anak itu membuat mereka menganggap mengeluarkan biaya pendidikan sebagai beban, bukan investasi. Apalagi, sebagian dari mereka mulai meragukan pentingnya bersekolah karena setelah lulus pun sulit mencari pekerjaan.
Pendidikan kini mulai terpinggirkan. Bahkan, anggaran pendapatan belanja negara (APBN) tahun ini hanya mengalokasikan dana untuk pendidikan sebesar 11,8% atau Rp90,10 triliun dari total APBN 2007 sebesar Rp763,6 triliun.
Mahkamah Konstitusi (MK) seperti telah ditulis oleh harian ini juga mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam memenuhi syarat minimal alokasi anggaran pendidikan 20% sebagaimana yang ditetapkan dalam UUD 1945.
Dengan berkurangnya anggaran pendidikan itu, dipastikan biaya pendidikan makin tak terjangkau oleh rakyat jelata. Seperti telah dikutip oleh media massa, Aan Rochana, anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, pun mengakui biaya masuk sekolah begitu mahal.
Di sebuah sekolah ada yang memungut Rp15 juta untuk masuk SMP dan Rp30 juta untuk masuk SMA. Senada dan seirama, biaya pendidikan di perguruan tinggi pun makin membubung tinggi.
Kalau pemerintah dan pengusaha kaya tak segera menyadari pentingnya investasi pendidikan, dipastikan nasib bangsa ini akan makin terpinggirkan.
Terlepas dari kekurangan dunia pendidikan dalam mencetak manusia yang unggul, investasi di pendidikan tetaplah penting. Masyarakat terdidik yang disebut kelas menengah telah diakui oleh sejarah sebagai orang yang siap mengusung perubahan.
Tentu saja, hanya orang terdidik dan berkarakter yang mampu mengemban misi sebagai agen perubahan (agent of change) dan agen pembangunan (agent of development).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar